Wednesday, August 31, 2016

Namanya bayu


Bu Sari adalah namanya. Guru yang kadang centil, banyak gaya, ramah dan nongky-nongky canteek bareng partner kerja. Namun tak jarang diam menyendiri seperti tak punya teman dan suka duduk di pojokan kantor.

Pagi itu Bu Sari sedang dipusingkan dengan anak buahnya yang sudah tidak masuk sekolah seminggu lamanya. Namanya Bayu. Di mata Bu Sari, Bayu adalah anak yang lucu dan gembul. Bayu bukan anak yang pandai sekali di kelasnya. Kadang kala Bayu agak tambeng, malah. Namun bukan berarti Bu Sari tidak menyayanginya. Bahkan terkadang Si Bayu melakukan hal yang menjengkelkan. Tetapi Bu Sari sulit sekali untuk memarahinya hanya karena melihat wajahnya yang lucu dan gembul.

Bu Sari adalah Emak aliyas Wali dari kelasnya Bayu. Dan itu membuat Bu Sari pening tiada kepalang. Bu Sari kian penasaran dan bertanya teman-teman kelas si Bayu.
Bu Sari : Ada yang tahu alasan Si Bayu tidak sekolah sejak kakeknya meninggal seminggu yang lalu?
Murid 1 : Kemarin sore saya lihat dia nonton sepak bola di lapangan desa, Bu.
Murid 2 : Iya, saja juga lihat. Kalau pagi saya lihat di kongkow di bengkel sana lho (sambil nunjuk bengkel si inu)
Bu Sari : Kalian pernah tanya alasan dia nggak masuk sekolah? Mungkin karena ada masalah di kelas atau dengan kakak kelas?
Murid 1 : Pernah, Bu. Tapi setiap ditanya dia selalu diam. Tidak pernah menjawab.
Murid 2,3, dst : Iya. Setiap kali saya tanya juga hanya diam, Bu.

Maka, setelah mendapat informasi dari teman-teman sekelas sudah saatnya Bu Sari bergerilya mengunjungi si Bayu. Dan aksi itu segera dilancarkan ketika Bu Sari sudah mengantongi alamat dan rute rumah Si Bayu.

Tepat pukul 10 pagi Bu Sari tiba di rumah Bayu. Sayangnya rumah dalam keadaan hening dan terkunci. Ada beberapa tetangga yang berlalu-lalang memberi kabar kepada Bu Sari bahwa setiap jam 10 pagi rumah itu selalu sepi karena si ayah bekerja di Luar Kota dan si Ibu bekerja di sawah. sedangkan, Bayu..dimana dia?

Tidak kalah akal, Bu Santi kemudian mencari Bayu ke tempat bengket biasa mangkal Bayu. Namun, nihil. Hasilnya Nol Besar seukuran telor puyuh (terlalu besar atau terlalu kecil ini, Mah?). Maka, Bu Santi kembali lagi ke rumah Bayu, siapa tahu sebentar lagi Bayu atau ibunya sudah pulang.

Nah, disitulah drama terjadi. Suara televisi dari dalam terdengar nyaring dari luar dan pintu rumah Bayu tidak dalam keadaan terkunci. Maka, Bu Sari segera mengucapkan salam. Berkali-kali. Sayangnya tak juga ada jawaban dari dalam. Maka, mau tak mau, Bu Santi membuka pintu rumah itu dan hasilnya..(jreng.jreng.jreng)
Tidak ada manusia sama sekali di rumah itu, entah itu di depan TV, di dapur, di lemari, di kolong kamar tidur, sampai di dalam periuk. Rumah itu benar-benar sepi. Itu setelah Bu Sari mengerahkan anak buah dan kekuatan untuk mencari ke pelosok rumah tersebut. Bu Sari layaknya membuat Densus 88 tandingan. Tetapi pekerjaannya masih amatir.
Dan..pulangnlah Bu Santi dengan tangan kosong.

Cerita masih berlanjut keesokan harinya. Bu Sari tidak pantang menyerah. Entah setan dari bangsa mana yang merasuki Bu Sari hingga keesokan paginya Bu Sari begitu antusias kembali mengunjungi rumah Bayu. Kali ini, Bu Sari berusaha datang lebih awal. Pagi ranum yang tak terlalu buta sebelum jam sekolah. Dan gayungpun tersambut. Ibu sekaligus Bayu-nya masih ada di rumah. Satu paket lengkap. Syukurlah. Bu Sari menghela napas lega.

Hanya dengan melihat wajah si Bayu yang sedang asyik di depan TV, Ibu Sari terkikik mengingat hari kemarin.
Bu Sari : Bayu, kemarin saya dari sini, lho. Sebenarnya kamu ada dimana sih?
Bayu : Hehehe. Saya ngumpet bu
Bu sari : Dimana? Saya cari di kolong meja sampai kolong jembatang bersih, nggak ada tuh wujuhmu. Malah saya cari juga di dalam gentong.
Bayu : Saya ngumpet di belakang, Bu. Di balik Jerami. Gatal (kembali dia cengegesan)
(Bu Sari tak bisa menahan tawa)
Maka setelah sedikit berbasa-basi, tibalah d perbincangan utama.
Bu Sari : Kenapa kamu tidak masuk sekolah selama seminggu ini?
Bayu : Karena saya tidak punya uang buat bayar sekolah, Bu.
Pas sekali ibunya Bayu keluar, entah dari dapur atau dari Hongkong atau mungkin dari tadi. apalah...
Ibu Bayu : Lha iya, Bu. Padahal sudah saya bilang kalau uang itu sedang diusahakan. Masa gurunya tidak mau mengerti sampai Si Bayu harus minta uang seketika itu juga.
Bu Sari : Padahal di sekolah kami itu ada yang per minggu nyicil 10 ribu dari mengumpulkan uang jajan. Seperti itu banyak.

Bu Sari : Benar hanya itu masalahnya? tidak ada masalah lain? Kalau hanya itu, nanti bisa kita pikirkan bersama. Yang penting berangkat sekolah dulu.
Bayu mengangguk.

Bu Sari kemudian memberikan penjelasan panjang x lebar x tinggi hingga menara Eiffel. Maka, disitulah usaha Bu Sari membuahkan hasil. Bayu dan Bu Sari berangkat ke solah bersama-sama.

Nah, dari cerita di atas bisa kita tangkap bahwa tidak semua orang tua langsung sanggup memberikan uang untuk membayar sekolah seketika itu juga. Tidak semua anak bisa menerima itu. Maka sebagai orang tua dan guru kita harus kembali merangkul anak-anak kita yang tekadang hanya karena 'masalah' seperti itu sudah ngambek tidak mau sekolah.

Dan, tugas Bu Sari hari ini cukup sekian dan terima kasih. Semoga bisa bertemu kembali di lain waktu.

No comments:

Post a Comment